Luvero Family

Islamic Forum of MIG33 Luvero Family
 
IndeksPortalCalendarFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin
Login
Username:
Password:
Login otomatis: 
:: Lupa password?
Luvero_family
Latest topics
» Soft smart setting v.2.10 s60v3
Fri Nov 04, 2011 1:41 am by andrh1

» Aplikasi s60.V3 corel player 1.30
Sun Sep 25, 2011 10:13 am by nyeropo

» Lock room anda
Tue Sep 06, 2011 3:12 am by bajangstyle

» FORSAL3 EMOTE STORE by kariayam
Wed Aug 17, 2011 2:28 pm by soelist

» Mig33+Opmin in 1 app
Fri Aug 12, 2011 3:47 am by Ikaz_wong

» Mig33 4.5 tema freezerland
Fri May 06, 2011 2:14 pm by madat

» Moderator2 LUVERO ??
Wed Apr 13, 2011 12:45 pm by soul-sick

» VB Spy (SPY RUM MULTI IP)
Wed Apr 13, 2011 12:41 pm by soul-sick

» TUNTUNAN KEHIDUPAN (semoga bermanfaat)
Thu Feb 24, 2011 10:28 am by sky.bd

Top posters
rizqi11
 
sky.bd
 
soul-sick
 
Virgin_eye
 
s-cc
 
Freedie
 
anne ray
 
kha-riem
 
chif
 
p0p
 
Affiliates
free forum

Affiliates
free forum


Share | 
 

 COUNTER ATTACK MISIONARIS (JILID III)

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
uzumaki



Zodiac : Cancer
Jumlah posting : 14
Age : 32
Lokasi : Subang

PostSubyek: COUNTER ATTACK MISIONARIS (JILID III)   Sun May 03, 2009 10:30 pm

Hadis Selingkuh Aisyah


Pendahuluan
Robert Morey mempertanyakan keabsahan hadis Bukhari perihal munculnya gosip selingkuh Aisyah (isteri Nabi) yang membuat terpuruknya rumah tangga Nabi, akhirnya secara emosional mengintruksikan umat untuk membunuh provokator isu tersebut. Katanya (dalam :. The Islamic Invation, (Shermasn: Scholars Press, 1991). p. 204-206): Perintah Muhammad agar seseorang membunuh demi Muhammad kadang-kadang menimbulkan masalah antar suku. Pada suatu peristiwa, Aisyah yang ketika itu baru berusia lima belas tahun, dituduh berzina. Menurut cerita, Aisyah secara tidak sengaja meninggalkan kalungnya di belakang ketika dia buang hajat. Setelah mencarinya, dan kembali ke para kafilah rombongannya, ternyata mereka sudah berangkat tanpa Aisyah. Mereka tidak sadar bahwa Aisyah tidak ada bersama mereka. Tak lama kemudian ada seorang Muslim yang bernama Safwan ibn Mu'attal as-Sulami al-Dhakwani menemukan Aisyah, lalu Aisyah dinaikkan ke atas untanya untuk diantar ke para kafilah rombongan Aisyah. Hal tersebut menimbulkan desas-desus kotor yang menyatakan bahwa Aisyah berselingkuh dengan Safwan. Seluruh komunitas Muslim menjadi heboh dengan adanya desas-desus tersebut. Menurut Aisyah yang menjadi pimpinan dari orang-orang yang menuduhnya adalah Abdullah bin Ubai bin Salul. Para pengikutnya menyebarkan tuduhan bohong mengenai perzinaan Aisyah. Aisyah kembali ke orang tuanya sementara Muhammad menemui Ali bin Abu Talib dan Usamah bin Zaid untuk berkonsultasi mengenai rencananya menceraikan istrinya tersebut (maksudnya Aisyah). Mereka berdua menyarankan agar Muhammad tidak menceraikan Aisyah hanya karena desas-desus yang tidak benar tetapi sebaiknya Muhammad menanyakan pembantu perempuan Aisyah yang bernama Burairah, apakah dia pernah melihat sesuatu yang mencurigakan mengenai Aisyah?. Burairah mengatakan: "Tidak, demi Allah yang telah mengutus anda dengan kebenarannya, saya tidak pernah melihat perbuatan tercela yang dilakukan oleh Aisyah, yang saya tahu hanyalah bahwa Aisyah masih kanak-kanak yang belum akil baliq, yang kadang-kadang tidur dan meninggalkan adonan kuenya untuk makanan kambing."
Yang menjadi pertanyaan, apakah Nabi yang sabdanya merupakan ilham Ilahi tercermin dalam cerita yang dikodifikasi oleh Bukhari seperti itu?. Bilamana benar maka Muhammad tidak layak menyandang predikat Nabi atau Rasul. Atau cerita itu yang salah, padahal ada dalam Shahih Bukhari?! Itulah sebabnya sebagai kata kunci Robert Morey dalam memvonis “Bahwa hadis merupakan pukulan final yang meledakkan klaim bahwa Ia (Muhammad) adalah seorang di antara jajaran Rasul Allah”.



Hadis al-Ifki
Gosip yang melanda rumah tangga Nabi yang terkait dengan perselingkuhan Aisyah ra. (isteri Nabi) dengan Safwan bin Mu’attal oleh ulama hadis lazim disebut hadis al-Ifki. Berikut ini di antara teks hadis tersebut:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهَا زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ سَفَرًا أَقْرَعَ بَيْنَ أَزْوَاجِهِ فَأَيَّتُهُنَّ خَرَجَ سَهْمُهَا خَرَجَ بِهَا مَعَهُ فَأَقْرَعَ بَيْنَنَا فِي غَزَاةٍ غَزَاهَا فَخَرَجَ سَهْمِي فَخَرَجْتُ مَعَهُ بَعْدَ مَا أُنْزِلَ الْحِجَابُ فَأَنَا أُحْمَلُ فِي هَوْدَجٍ وَأُنْزَلُ فِيهِ فَسِرْنَا حَتَّى إِذَا فَرَغَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ غَزْوَتِهِ تِلْكَ وَقَفَلَ وَدَنَوْنَا مِنَ الْمَدِينَةِ آذَنَ لَيْلَةً بِالرَّحِيلِ فَقُمْتُ حِينَ آذَنُوا بِالرَّحِيلِ فَمَشَيْتُ حَتَّى جَاوَزْتُ الْجَيْشَ فَلَمَّا قَضَيْتُ شَأْنِي أَقْبَلْتُ إِلَى الرَّحْلِ فَلَمَسْتُ صَدْرِي فَإِذَا عِقْدٌ لِي مِنْ جَزْعِ أَظْفَارٍ قَدِ انْقَطَعَ فَرَجَعْتُ فَالْتَمَسْتُ عِقْدِي فَحَبَسَنِي ابْتِغَاؤُهُ … فَبَيْنَا أَنَا جَالِسَةٌ غَلَبَتْنِي عَيْنَايَ فَنِمْتُ وَكَانَ صَفْوَانُ بْنُ الْمُعَطَّلِ السُّلَمِيُّ ثُمَّ الذَّكْوَانِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْجَيْشِ فَأَصْبَحَ عِنْدَ مَنْزِلِي فَرَأَى سَوَادَ إِنْسَانٍ نَائِمٍ فَأَتَانِي وَكَانَ يَرَانِي قَبْلَ الْحِجَابِ فَاسْتَيْقَظْتُ بِاسْتِرْجَاعِهِ حِينَ أَنَاخَ رَاحِلَتَهُ فَوَطِئَ يَدَهَا فَرَكِبْتُهَا فَانْطَلَقَ يَقُودُ بِي الرَّاحِلَةَ حَتَّى أَتَيْنَا الْجَيْشَ بَعْدَ مَا نَزَلُوا مُعَرِّسِينَ فِي نَحْرِ الظَّهِيرَةِ فَهَلَكَ مَنْ هَلَكَ وَكَانَ الَّذِي تَوَلَّى الاِفْكَ عَبْدُاللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ ابْنُ سَلُولَ … فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ يَوْمِهِ فَاسْتَعْذَرَ مِنْ عَبْدِاللَّهِ بْنِ أُبَيٍّ ابْنِ سَلُولَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يَعْذُرُنِي مِنْ رَجُلٍ بَلَغَنِي أَذَاهُ فِي أَهْلِي فَوَاللَّهِ مَا عَلِمْتُ عَلَى أَهْلِي إِلاَّ خَيْرًا …
Aisyah ra. berkata: Kebiasaan Nabi saw. sekiranya hendak bepergian mengundi isteri-isterinya untuk mendampinginya. Siapa yang namanya keluar, dialah yang beliau ajak. Dalam suatu peperangan (terhadap Bani Mustaliq), nama saya yang keluar, maka saya yang mendampingi beliau, yakni setelah turunnya ayat hijab. Saya dinaikkan di atas pelana. Usai peperangan kami pun pulang, ketika sudah dekat kota Madinah, saat itu malam hari, saya turun berjalan kaki, lama-lama saya tertinggal kafilah, waktu itu saya punya hajat, akhirnya bergegas saya menuju kafilah namun ketika saya memegang dada, saya sadar bahwa kalung saya putus dan jatuh, saya kembali untuk mencarinya, namun saya gagal menemukannya … saya merasa lelah, duduk dan tertidur. Sampai datang Safwan bin Mu’attal al-Sulami al-Dzakwani, ketika ia melihat manusia berpakaian hitam sedang tidur (saya sendiri) dia menghampiriku dan mengenaliku memang dia telah mengenali saya sejak sebelum turunnya ayat hijab, maka saya terbangun lantaan ucapan istirja’nya, dia yang menderumkan untanya dan mempersilakan saya menaikinya, dia yang menuntun unta itu sampai kami bergabung dengan kafilah lagi menjelang sore hari, maka isu selingkuh disebarluaskan orang, provokatornya adalah Abdullah bin Ubai bin Salul …(setelah datang kepastian kesucian Aisyah), maka Nabi saw. bangkit dan bersabda: Siapa di antara kalian yang mau menolong saya terhadap orang yang mencemarkan keluargaku, demi Allah, keluarga tidaklah melakukan sesuatu kecuali dalam kebajikan …”
Takhrij: Hadis di atas dikeluarkan oleh Bukhari: 2404, 2442, 2467, 2491, 2666, 2721, 3826, 4380, 4811, 6169, 6185, 6821, 6822, 6946, 6990; Muslim: 4477, 4974; Abu Daud: 1826; Ibnu Majah: 1960, 2238 ; Ahmad: 23690, 23714, 24444, 25110; Darimi: 2111, 2316.

Analisis
Hadis al-Ifki, secara harfiyah berarti “mengada-ada, dusta, kabar bohong”, atau sejenisnya karena gosip itu akhirnya tidak terbukti. Orang-orang yang menonjol memprovokasikan gosip itu adalah Abdullah bin Ubai bin Salul, yang akhirnya dikenal sebagai tokoh munafik.
Kandungan hadis al-Ifki di atas cukup banyak, mulai kisah ikutnya Aisyah dalam peperangan Bani Mustaliq, kehilangan kalung, tertinggal dari barisan sampai ditemukan oleh Safwan bin Mu’attal yang akhirnya lahir gosip perselingkuhan, kisah Abdullah bin Ubai bin Salul yang memprovokasikan gosip tersebut, penilaian Ali, Usamah dan Burairah tentang karakter Aisyah, sebab historis turunnya surat an-Nur (ayat 11-26), kelapangan Abu Bakar al-Siddiq (orang tua Aisyah) untuk memaafkan Mistah bin Utalah yang turut menyebarkan gosip, pernyataan Nabi kepada umat untuk mengadakan pembelaan, usulan umat untuk membunuh sang provokator dan ketegangan antara suku Aus dan Khadraj ketika mereka berkeinginan membunuh orang yang membuat cela keluarga Nabi.
Siapa Pemvonis Pembunuhan?
Gosip perselingkuhan antara Aisyah (isteri Nabi) dengan Safwan bin Mu’attal ternyata tidak terbukti, inilah yang melatarbelakangi turunnya firman Allah swt.”Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita itu adalah dari golongan kamu juga. Jangan kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar …”( QS. An-Nur: 11-26)
Sebagai konsekuensi logis, pelaku gosip harus mendapatkan hukuman. Sebagaimana dimaklumi, di Madinah pada waktu itu ada dua suku yang dominan, yaitu suku Khadraj dan suku Aus. Abdullah bin Saba’ bin Salul (tokoh munafik) adalah dari suku Khadraj. Ketika Nabi saw. sudah mendapatkan kepastian kesucian Aisyah, maka Nabi ingin menegakkan keadilah terhadap orang-orang yang memfitnah wanita suci. Sabdanya: “Siapa di antara kalian yang mau membela aku dari orang-orang yang telah membuat aib keluargaku!”.
Sebatas inilah pernyataan Nabi, salah besar Robert Morey yang menyimpulkan bahwa Nabi saw. mengintruksikan “eksekusi”. Orang yang arif tentu tidak akan memahami seperti ini. Pembelaan yang dimaksud oleh Nabi tentunya sebatas memberi klarifikasi terhadap kesucian Aisyah, dan menghentikan pelaku gosip. Itulah maksud dari sabda Nabi berikutnya “Sesungguhnya telah datang kabar perselingkuhan terhadap isteriku, padahal demi Allah, saya tahu sekiranya isteriku tidak lepas dari kebajikan”.
Mendengar kabar yang mengharukan itulah, Sa’ad bin Mu’ad (pemuka suku Aus) memberi respon: “Wahai Nabi, kami senantiasa membela tuan, jika provokatornya dari suku Aus maka saya yang akan memenggal lehernya, dan jika dari suku lain (Khadraj) maka izinkan kami menghukumnya”.
Pernyataan Sa’ad bin Mu’ad (pemuka suku Aus) inilah yang menyinggung perasaan suku Khadraj, karena oknum yang menyebarluaskan gosip itu adalah Abdullah bin Saba’ bin Salul (dari suku Khadraj). Itulah sebabnya Sa’ad bin Ubadah (pemuka suku Khadraj) menimpali: “Demi Allah kamu tidak jujur, kamu berani mengatakan seperti itu lantaran kamu mengetahui bahwa oknum yang dituduh membuat fitnah adalah dari golongan kami (Khadraj), sekiranya provokatornya dari golonganmu tentu kamu tidak berkata seperti itu!”. Mendengar ucapan itu maka Usaid bin Khudair (pemuka suku Aus) balik berkomentar: “Justru kamu yang tidak jujur, suku kami (Aus) tetap akan menghukum siapa saja yang mengganggu keluarga Nabi, sungguh kamu tergolong munafik, sekiranya kamu menolong orang-orang munafik”. Perdebatan itu makin memanas sehingga memicu saling hendak membunuh, maka Nabi segera mendamaikan mereka.
Dari paparan ini dapat difahami, ide perintah “pembunuhan” sama sekali bukan dari pihak Nabi, akan tetapi luapan emosi umat yang mendorong mereka membunuh provokator. Pada akhirnya sejarah membuktikan, tidak seorang pun dihukum mati karena provokasi mereka, justru Nabi memaafkan mereka, sebagaimana Abu Bakar al-Siddiq memaafkan Mistah bin Utalah yang turut menyebarluaskan fitnah. Keributan-keributan yang digambarkan oleh Robert Morey tidak terbukti berakhir dengan saling membunuh, karena Nabi sendiri yang segera mendamaikan mereka. Wajar hal itu terjadi karena berawal dari kesalahpahaman, saling mencurigai serta pembelaan harga diri terhadap kaumnya, yang pada waktu itu kebiasaan untuk membela masing-masing suku sangat kuat, bahkan sampai dewasa ini.
Tidak Mungkin Nabi Membunuh Sahabat
Pelaku gosip dalam Al-Qur’an disebut “dari golongan kamu juga”, walaupun titik terang mulai nampak bahwa provokatornya adalah Abdullah bin Saba’ bin Salul, namun tidak mungkin Nabi saw. menginstruksikan umat untuk membunuhnya, secara logika, tidak mungkin Nabi membunuh orang yang sudah pernah berikrar “Tiada Tuhan selain Allah” kecuali dengan hak Islam. Nabi saw. pernah bersabda: “Saya hanya diperintah memerangi mereka (kafir muharib) sampai mereka berikrar bahwa tiada tuhan selain Allah, sekiranya mereka telah mengatakannya maka terjagalah mereka darahnya, hartanya dan harga dirinya, adapun kepura-puraannya itu urusan dia dengan Tuhannya”.
Abdullah bin Saba’ bin Salul walaupun banyak melakukan kekejian terhadap Nabi dan umat Islam, namun perilaku Nabi kepadanya justru penuh dengan kasih sayang, hal ini terbukti sebagai berikut: Pertama, Nabi pernah menjanjikan pemberian jubah kepada putranya untuk dijadikan kafan bapaknya. Kedua, Nabi ingin memohonkan ampunan kepada Tuhan atas dosa-dosanya. Ketiga, Nabi hendak menshalati jenazahnya namun ditegur oleh Tuhan.

Catatan Akhir
Sekiranya vonis hukuman mati merupakan instruksi Nabi, maka harus ada yang terbukti dieksekusi, namun sejarah membuktikan, tidak ada seorang pun divonis mati karena terlibat menyebarluarkan gosip perselingkuhan Aisyah. Ide pembunuhan itu justru muncul dari nurani umat yang merasakan adanya pelecehan terhadap isteri Nabi, maka segera Nabi menghentikan niat mereka. Alangkah mulianya Nabi di mata orang-orang yang arif, dan alangkah kejinya beliau di mata Robert Morey!

Cukup tiga jilid dl ah :peace: :thank: :thank:
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
sm00k33
Soft Specialist
Soft Specialist


Jumlah posting : 41

PostSubyek: Re: COUNTER ATTACK MISIONARIS (JILID III)   Sun May 03, 2009 11:00 pm

:peace: Hadew.... lumayan wat wacana..
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
COUNTER ATTACK MISIONARIS (JILID III)
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Luvero Family :: MUSLIM ZONE :: Artikel-
Navigasi: